SEJARAH
ILMU AKHLAK
DOSEN PEMBIMBING
Wahyudi Setiawan M.pd.i
|
|
PEMBUAAT MAKALAH
Arsinta
&
Lalu Abdur Rahman
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PONOROGO
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
TAHUN
2018-2019
1.
Latar Belakang
Melacak sejarah perkembangan akhlak (etika) dalam pendekatan bahasa
sebenarnya sudah dikenal manusia di muka bumi ini. Yaitu, yang dikenal dengan
istilah adat istiadat (al-adalah/ tradisi) yang sangat dihormati oleh setiap
individu, keluarga dan masyarakat.
Selama lebih kurang seribu tahun ahli-ahli fikir Yunani dianggap telah
pernah membangun “kerajaan filsafat“, dengan lahirnya berbagai ahli dan
timbulnya berbagai macam aliran filsafat. Para penyelidik akhlak mengemukakan,
bahwa ahli-ahli semata-semata berdasarkan fikiran dan teori-teori pengetahuan, bukan
berdasarkan agama. Selain itu juga masih terdapat ahli-ahli fikir lain di zaman
sebelum islam, pertengahan, dan di zaman modern.
PEMBAHASAN
Secara etimologis akhlak adalah
bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau
tabiat. Dari pengertian etimologis seperti ini, akhlak bukan saja merupakan
tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antar sesama manusia,
tetapi juga norma yang mengatur hubungan antar manusia dengan Tuhan dan bahkan
dengan alam semesta. Sedangkan, Ilmu Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas
baik dan buruk, terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia
lahir dan batin. Jadi ilmu akhlak adalah ilmu yang mempersoalkan baik buruknya
amal.
Akhlak dalam arti bahasa, sebenarnya
sudah dikenal manusia di atas permukaan bumi ini yaitu apa yang disebut dengan
istilah adat-istiadat (tradisi) yang dihormati, baik dalam kehidupan pribadi,
keluarga dan masyarakat. Dalam keadaan terputusnya wahyu (zaman fatrah) maka
tradisi itulah yang dijadikan tolak ukur dan alat penimbangan norma pergaulan
kehidupan manusia, terlepas dari segi apakah itu baik atau buruk menurut
setelah datang wahyu.
Kalau kita memperhatikan bangsa arab
di zaman jahiliyah, misalnya: mereka sudah memiliki perangai halus dan rela
dalam kehidupan baik dan kemuliaan cukup. Tetapi juga pemarah luar biasa,
perampok, perampas, karena kejahatan mengancam diri atau kabilahnya. Hal ini
Nampak dalam puisi-puisi mereka sebagai bangsa yang buta huruf, tetapi daya
ingatan dan hafalan mereka sangat kuat. Misalnya: Zuhair ibnu abi Salam
mengatakan: “Barang siapa menepati janji tidak kan tercela dan barang siapa
membawa hatinya menuju kebaikan yang menentramkan, tidak akan ragu-ragu”.
Bangsa Arab sebelum Islam telah
memiliki dalam kadar yang minimal pemikiran dalam bidang akhlak. Pengetahuan
tentang berbagai macam keutamaan dan mengerjakannya, walaupun nilai yang
tercetus lewat syair-syairnya belum sebanding dengan kata-kata hikmah yang
diucapkan oleh filosof-filosof zaman kuno. Sewaktu islam datang yang dibawa
oleh Muhammad SAW, maka Islam tidak menolak setiap kebiasaan yang terpuji yang
terdapat pada bangsa Arab, Islam datang kepada mereka membawa akhlak yang mulia
yang menjadi dasar kebaikan hidup seseorang, keluarga, handai tolan, umat
manusia serta alam seluruhnya. Setelah Al-qur’an turun maka lingkaran bangsa
Arab dalam segi akhlak dari segi sempit menjadi luas dan berkembang, jelas arah
dan sasarannya.
Dalam kaitannya dengan hal ini, akan
dibahas mengenai sejarah pertumbuhan
dan perkembangan ilmu akhlaq dengan pendekatan religi, yaitu: pertama,
pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak di luar ajaran Islam; kedua,
pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak di dalam ajaran Islam.
A.
Ilmu Aklak
diluar Agama Islam
1.
Akhlak pada
masa Yunani
Dasar yang digunakan para pemikir
Yunani dan membangun ilmu akhlak adalah pemikiran filsafat tentang manusia atau
pemikiran tentang manusia dan bersifat filosofis yaitu filsafat yang bertumpu
pada kajian secara mendalam terhadap potensi kejiwaan yang terdapat dalam diri
manusia atau bersifat antroposentris dan mengesankan bahwa akhlak adalah
sesuatu yang fitri, yang akan ada bersamaan dengan adanya manusia, dan hasil
yang didapatkan berdasar pada logika murni.
Filosof Yunani yang pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates (469-399 SM). Kemudian diikuti oleh pengikutnya adlaah Cynics dan Cyrenics. Kedua golongan tersebut sama-sama berbicara tentang perbuatan yang baik, utama dan mulia.
Pada masa berikutnya datang Plato (427-347 SM). Plato berpendapat bahwa di dalam jiwa manusia terdapat kekuatan yang bermacam-maam, dan perbuatan yang utama timbul dari kemampuan membuat peimbangan dalam mendayagunakan potensi kejiwaan itu kepada hukum akal.
Setelah Plato hadir Aristoteles (394-322 SM). Aristoteles berpendapat bahwa tujuan akhir yang dikehendaki oleh manusia dari apa yang dilakukannya adalah bahagia atau kebahagiaan. Jalan untuk mencapai kebahagiaan itu adalah dengan mempergunakan akal akal dengan sebaik-baiknya.
Filosof Yunani berikutnya yang terlahir adalah Stoics dan Epicurus (6-140 SM). Keseluruhan ajaran yang dikemukakan oleh mereka adalah bersifat rasionalistik. Penentuan baik dan buruk itu didasarkan pada pendapat akal pikiran yang ada pada diri manusia. Karenanya dapat dikatakan bahwa pemikiran filsafat yang dianut oleh para filosof Yunani ini adalah bersifat antropocentris (memusat pada manusia).
- Akhlak pada agama Nasrani
Menurut ajaran Nasrani, bahwa agama
tersebut adalah bersumber dari akhlak. Tuhanlah yang menentukan dan membentuk
patokan-patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupan
sosial kemasyarakatan. Tuhanlah yang menjelaskan baik dan buruk. Menurut agama
ini yang disebut baik adalah perbuatan yang disukai Tuhan, dan sebaliknya yang
disebut buruk adalah perbuatan yang tidak disukainya.
- Akhlak pada bangsa Romawi
Ajaran akhlak yang lahir pada saat
ini (abad pertengahan) adalah ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan antara
ajaran Yunani dan ajaran Nasrani. Di antara mereka yang terkenal adalah
Abelard, Perancis (1079-1142) dan Thomas Aquinas, Italy (1226-1274).
B. Akhlak
pada agama islam
Akhlak adalah bagian dari syari’at
Islam. Bagian dari perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya. Akhlak
harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal
perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan
perintah-perintah Allah.
Agama Islam juga mengandung jalan
hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada
kebahagiaan dan kesejahteraan. Semua ini terkandung dalam ajaran al-Qur’an yang
diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.
Islam memiliki tokoh-tokoh yang
sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain
adalah Nabi-nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suci al-Qur’an.
- Nabi Ibrahim a.s.
Nabi Ibrahim a.s. mempunyai sebutan
sebagai Ayahnya semua nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran
tauhid kepada umat manusia. Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam
menghadapi kezaliman. Ia pernah menghancurkan patung-patung yang menjadi tuhan
Raja Namruz dan para pengikutnya, sehingga ia dibakar hidup-hidup.
Resiko perjuangan ditanggung sendiri
oleh Nabi Ibrahim sehingga menjadi teladan bagi istri dan pengikutnya.
Keberanian Nabi Ibrahim a.s. memberantas ajaran kemusyrikan merupakan ssimbol
penting dalam ajaran tauhid. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya pantang
untuk berlaku syirik kepada Allah SWT.
- Nabi Nuh a.s.
Ujian Nabi Nuh a.s. cukup berat
karena ia harus menghadapi kekufuran anaknya sendiri, yaitu Kan’an. Ia tidak
putus asa mengajak dan menasehati anaknya, meskipun akhirnya anaknya mati
tenggelam terbawa arus banjir yang luar biasa. Kisah itu adalah teladan bagi
kita sebagai orangtua, untuk terus membimbing anak, dan sebaliknya, anak yang
membimbing orangtua agar bersama-sama masuk surga.
- Nabi Luth a.s.
Nabi Luth a.s. menghadapi ujian yang
sangat berat karena umatnya memiliki penyimpangan seksual. Homoseksual dan
Lesbian dipraktikkan secara terang-terangan oleh masyarakat. Namun Nabi Luth
tidak pernah bosan dalam mendakwahi masyarakat tersebut walaupun pada akhirnya
umatnya mendapatkan azab dari Allah SWT berupa hujan batu dikarenakan
kekeraskepalaan umatnya yang tidak mau mengikuti ajaran Nabi Luth a.s.
Sikap Nabi Luth a.s. yang pantang
menyerah walaupun ajarannya tidak diindahkan oleh umatnya sepatutnya menjadi
teladan bagi kita, bahwa setiap melakukan kebajikan pasti kita akan mendapatkan
suatu halangan bahkan kadang kala halangan ini menjadikan kita putus asa. Untuk
itulah sikap pantang menyerah harus kita galakkan agar kita dapat menjalankan
kebajikan di dalam kondisi apapun.
- Nabi Ayyub a.s.
Nabi Ayyub a.s. adalah nabi yang
sangat sabar karena ia diberi penyakit kulit yang cukup lama. Istrinya pun
merawat dengan sabar. Istrinya pernah menyarankan agar nabi Ayyub a.s. meminta
kepada Allah SWT untuk mencabut penyakitnya, tetapi ia merasa malu karena
kenikmatan yang telah diberikan yang telah diberikan oleh Allah SWT masih
terlampau besar dibandingkan dengan penyakit yang dideritanya.
Kesabaran serta kesadaran nabi Ayyub yang luar biasa ini harus kita tiru dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Sehingga nantinya kehidupan kita diselimuti oleh rasa tenang dan selalu bersyukur dalam situasi apapun.
- Nabi Musa a.s.
Nabi Musa a.s. adalah seorang nabi
yang sejak bayi telah dibuang oleh ibunya karena pada masa itu, jika ada
seorang bayi laki-laki yang lahir, kemudian Fir’aun mengetahuinya, ia akan
segera membunuhnya.
Singkat cerita akhirnya Nabi Musa a.s. menjadi anak
angkat Fir’aun dikarenakan permintaan dari Istri Fir’aun untuk mengangkat anak
yang ditemukannya menjadi anak angkatnya.
Sesungguhnya, akhlak Nabi Musa a.s.
sangat penting untuk ditiru, bagi penguasa yang kuat hendaknya menjadikan
kekuatannya untuk membasmi kemunkaran dan kemaksiatan, bukan sebaliknya,
digunakan untuk mendirikan pusat-pusat kejahatan, pelacuran, dan pembela
kezaliman.
- Nabi Isa a.s.
Nabi Isa a.s. adalah nabi yang penuh
rasa cinta kasih kepada umatnya. Keahliannya digunakan untuk mengobati
orang-orang yang miskin. Hendaknya, akhlak Nabi Isa a.s. ditiru oleh para
dokter dan ahli kesehatan, juga oleh orang-orang kaya untuk membantu ekonomi
orang-orang fakir dan miskin.
- Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan
Rasul terakhir, beliau mengalami suka duka yang sangat banyak. Beliau sudah
menjadi yatim-piatu sejak kecil. Akhlaknya sangat mulia dan dikagumi oleh semua
orang, bahkan oleh orang kafir Quraisy dan mendapatkan gelar Al-Amin (orang
yang jujur dan terpecaya.
Nabi Muhammad SAW adalah penyebar kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Beliau sangat pemaaf meskipun kepada orang yang telah menyakitinya. Bahkan, beliau menengok orang yang setiap hari meludahinya. Beliau ditawari untuk meninggalkan dan mengingkari Allah SAW dengan harta yang berlimpah namun Nabi Muhammad SAW menolak mentah-mentah tawaran tersebut.
Akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai ayah dari anak-anaknya, suami dari istri-istrinya, komandan perang, mubaligh, imam, hakim, pedagang, petani, penggembala, dan sebagainya merupakan akhlak yang harus diteladani.
Dalam 100 tokoh yang tekemuka di
dunia, Nabi Muhammad SAW menjadi/menduduki peringkat pertama, sebagai orang
yang paling berpengaruh di dunia. Beliau peletak dasar negara modern di Madinah
yang merumuskan perjanjian yang adil ditengah-tengah masyarakat sukuistik dan
pemeluk Yahudi dan Nasrani.
Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap apa yang ada di dunia ini.
Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap apa yang ada di dunia ini.
Selain itu, agama Islam juga
mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang
menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Hukum-hukum Islam yang
mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan
perbuatan yang baik.Sangatlah jelas bahwa dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat
yang mengandung pokok-pokok akidah kegamaan, keutamaan akhlak dan
prinsip-prinsip dan tata nilai perbuatan manusia.
Mengenai pembinaan akhlak dapat dijelaskan pendapat
Ath-Thabatabi sebagai berikut;
- Pertama, menurut petunjuk al-Qur’an
dalam hidupnya manusia hanya menuju kepada kebahagiaan, ketenangan dan
pencapaian cita-citanya.
- Kedua, perbuatan-perbuatan yang
dilakukan manusia senantiasa berada dalam suatu kerangka peraturan dan
hukum tertentu.
- Ketiga, jalan hidup terbaik dan terkuat
manusia adalah jalan hidup berdasarkan fitrah, bukan berdasarkan emosi dan
dorongan hawa nafsu.
- Aklak pada zaman baru
Akhlak pada zaman baru ini berkisar
pada akhir abad kelima belas M, dimana Eropa mulai mengalami kebangkitan di
bidang filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Akhlak yang mereka bangun
didasarkan pada penyelidikan menurut kenyataan empirik dan tidak mengikuti
gambaran-gambaran khayal atau keyakinan yang terdapat dalam ajaran agama.
Sumber akhlak dari dogma dan doktrin agama mereka ganti dengan logika dan
pengalaman empirik. Beberapa tokoh etika dalam masa ini di antaranya;
Descartes, Shafesbury dan Hatshon, Bentham, Jhon Stuart Mill Kant dan Bertrand
Russel.
Salah satu ajaran penting tentang etika pada masa ini adalah bersumber pada intuisi yang diklasifikasikan menjadi empat, yaitu;
- Intuisi mencari hakikat atau mencari ilmu
pengetahuan;
- Intuisi etika dan akhlak, yaitu cenderung kepada
kebaikan;
- Itnuisi estetika yaitu cenderung kepada segala
sesuatu yang mendatangkan keindahan, dan
- Intuisi agama yaitu perasaan meyakini adanya yang
menguasai alam dengan segala isinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar